
Q: Openbooks itu apa?
A: Openboooks adalah perpustakaan keluarga. Jadi di sini ada buku-buku bapak, ibu, adik dan anak saya. Selain itu, ada juga buku dari teman-teman.
Q: Kenapa dinamakan Openboooks?
A: Karena buku-buku itu terbuka buat dibaca semua orang. Silakan datang ke rumah kami untuk membaca. Gratis kok. Buku-buku itu terletak di berbagai ruangan yang kesemuanya boleh dimasuki. Konsepnya seperti open house. Biasanya kalau ada perayaan hari-hari besar, orang-orang kan sering mengadakan open house. Nah kami ingin bikin open house setiap hari. Tapi mohon maklum, rumah kami adalah rumah biasa dan apa adanya. Jadi jangan dibayangkan suasananya seperti perpustakaan besar atau kafe-kafe.
Q: Ide Openboooks dan open house itu datangnya dari mana?
A: Datangnya jelas dari Sang Maha Pemberi ide. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang memberi begitu banyak anugerah. Semua yang kami miliki sebenarnya 'kan bukan benar-benar milik kami. Semua itu sekedar titipan. Kami ingin merawat titipan itu dengan cara berbagi kepada sesama, sekaligus meringankan sesama. Dari dulu sampai sekarang kan harga buku masih relatif tinggi. Banyak buku bagus, tapi tidak semuanya bisa terbeli. Bahkan banyak orang yang tidak bisa membeli buku sama sekali.
Q: Kalau orang-orang boleh masuk ke rumah, lalu ada buku atau barang yang dicuri, bagaimana?
A: Soal itu, kami serahkan semuanya kepada Tuhan yang Maha Melihat. Kalau ada yang hilang, Insya Allah ada gantinya. Kami percaya Tuhan akan tetap mencukupi.
Q: Bagaimana dengan mereka yang tidak bisa berkunjung langsung?
A: Mereka masih bisa menikmati koleksi buku kami dengan cara meminjam. Untuk yang berada di wilayah Jakarta, kami bisa mengantarkan buku-buku tersebut ke rumah atau kantor. Setelah selesai membaca, kami akan mengambil buku-buku itu kembali, sambil membawa buku pilihan lainnya. Tapi untuk peminjaman ini ada biayanya yang mudah-mudahan masih terjangkau.
Q: Mereka yang di luar kota, bagaimana?
A: Bukunya bisa dikirim via jasa pengiriman paket. Ongkos kirimnya, sesuai harga dari jasa pengiriman itu. Nanti kalau sudah selesai, bukunya dikirim kembali. Memang, jadi ada biaya pengiriman. Tapi untuk sebagian buku, komponen biaya peminjaman dan ongkos kirim bolak-balik ini jatuhnya masih lebih murah daripada beli buku baru.
Q: Selain meminjamkan buku, openboooks juga menjual buku?
A: Ya, meski saat ini belum banyak koleksi buku untuk dijual. Ke depannya, kami akan menambah buku-buku yang dijual. Saat ini ada orang-orang yang ingin beli koleksi buku di perpustakaan. Seringkali, dengan terpaksa, kami tidak menjualnya karena kami cuma punya 1 eksemplar. Kalau dari sisi penjualan, mungkin menguntungkan, apalagi mereka bersedia bayar mahal untuk buku-buku yang sudah tidak dicetak ulang. Tapi kan pertimbangannya, tidak bisa semata-mata finansial. Dari segi uang , mungkin untung buat kami, tapi dari segi yang lebih luas, misalnya, dalam hal pemberdayaan masyarakat, malah rugi. Karena buku itu bisa berguna bagi banyak orang.
Q: Openboooks juga membuka peluang kerjasama?
A: Mulai November 2009, kami membuka kesempatan kerjasama sebagai online-marketer. Hal ini kami lakukan mengingat ada orang yang butuh pekerjaan atau penghasilan tambahan. Sementara, kami melihat dunia online memungkinkan untuk memberi penghasilan sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jadi kami ingin berbagi apa yang kami bisa.
Q: Kata orang, kalau ingin usaha online, sebaiknya punya web dot com.
A: Itu kata orang. Kata kami tidak begitu. Pengalaman kami, di Blogspot ini, memungkinkan untuk membangun usaha. Pada dasarnya kami ingin memanfaatkan apa yang sudah ada atau yang gratis. Kebetulan kami punyanya buku, maka jadilah usaha perpus ini. Untuk pemasarannya, kami pakai fasilitas online yang gratisan seperti Blogger, Google, Scribd, dan lain-lain. Nyatanya dengan cara ini, usaha bisa jalan. Blog masih mumpuni buat membangun usaha.
Q: Tapi kemampuan blog ini kan terbatas?
A: Justru karena itu kami memilih blog. Ada kalanya yang terbatas malah memberi kualitas pada sisi lain. Kami melihat keterbatasan itu sebagai peluang. Peluang untuk memberdayakan diri dan komunitas. Kami ingin tetap ada manusia-manusia yang aktif menjalankan dan kreatif mengembangkan usaha ini, termasuk kreatif dalam hal mengatasi keterbatasan blog ini. Hal itu bisa dilakukan dengan adanya kebersamaan. Kami melihat, satu sisi teknologi membawa kemudahan bagi manusia, namun di sisi lain, teknologi juga menciptakan kesulitan bagi manusia itu sendiri, antara lain tenaga manusia jadi tidak kurang dibutuhkan lagi -- digantikan mesin-mesin. Barangkali banyaknya pengangguran karena sudah banyak mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia.
Q: Jadi pertimbangan usaha ini bukan semata-mata bisnis.
A: Bisnis yang berwawasan sosial. Jadi ada ukuran-ukuran lainnya, seperti pemberdayaan individu maupun kolektif untuk menciptakan lapangan kerja, membangun komunitas yang saling berbagi. Kami ingin mencoba membangun kemandirian, swadaya individu maupun kolektif. Karena itu, kami memilih kerjasama dalam bentuk usaha, bukan hibah. Namun, ada juga persentase dari penjualan yang kami alokasikan untuk amal atau kegiatan sosial. Karena tidak semua persoalan bisa diatasi melalui usaha. Pada intinya, dari semua yang kami lakukan, kami ingin menanam iman, harapan dan cinta.
No comments:
Post a Comment