Showing posts with label SASTRA DRAMA. Show all posts
Showing posts with label SASTRA DRAMA. Show all posts

OPERA PRIMADONA, N. Riantiarno

Judul/Title: OPERA PRIMADONA
Penulis/Author:
N. Riantiarno
Penerbit/Publisher: Pustaka Kartini
Edisi/Edition: 1988
Halaman/Pages: 117
Dimensi/Dimension: 14 x 21 x 0.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Ria/o/C.1

***
OPERA PRIMADONA dipentaskan pertama kali oleh TEATER KOMA di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, pada 24 Maret hingga 1 April 1988. Sandiwara ini didukung oleh Ratna Riantiarno sebagai Mis Kejora, Didi Petet sebagai Rama Umbara, Tarida Gloria sebagai Mis Kecubung, Sjaeful Anar sebagai Petro, Prijo S. Winardi sebagai Baling, Alex Fatahillah sebagai Hamsad, Salim Bungsu dan Dudung Hady sebagai Jin. Penata Artistik digarap oleh Sjaeful Anwar, Penata Musik oleh Idrus Madani, Penata Rias oleh Subarakah Hadisarjana, Pimpinan Produksi oleh Ratna Riantiarno, Sutradara oleh N. Riantiarno.

DOR, Putu Wijaya

Judul/Title: DOR
Penulis/Author: Putu Wijaya
Penerbit/Publisher: Balai Pustaka
Edisi/Edition: 1986
Halaman/Pages: 70
Dimensi/Dimension: 15 x 21 x 0.5cm
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Wij/d/C.1

***
"Ini soal kecil," kata tokoh Hakim dalam drama ini. "Persoalan kita bukan hanya ini. Ini tidak gawat seperti masalah kelaparan atau perang. Hanya aku yang terlalu kecil. Keadilan atau kepatuhan bukan mustahil. Dia masih tegak di meja ini. Hanya aku sendiri yang meragukannya ....."

Drama Putu Wijaya ini mengetengahkan masalah keadilan betapa sulitnya mencari keadilan ditunjukkan oleh pengarang dalam lakon ini. Yaitu melalui tokoh-tokohnya yang sedang mengalami penghancuran kepribadian, di tengah masyarakat yang sedang sakit. Dan judul drama itu sendiri sudah memberikan kesan kepada kita bahwa tantangan bagi pencari keadilan terutama sekali datang dari kekerasan.

Inilah drama Putu Wijaya yang patut dibaca. Sebuah drama yang dialog-dialognya hidup dan padat. Ia mengajak kita merenungi masalah-masalah penting di negeri kita, yaitu hukum dan keadilan.

MALAM JAHANAM, Motinggo Busye

Judul/Title: MALAM JAHANAM
Penulis/Author: Motinggo Busye
Penerbit/Publisher: Pustaka Jaya
Edisi/Edition: 1995
Halaman/Pages: 78
Dimensi/Dimension: 14 x 20 x 0.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Bus/m/C.1

***
MALAM JAHANAM mendapat sambutan yang amat hangat tatkala diterbitkan pertama kali tahun 1961, setelah beberapa waktu sebelumnya berhasil memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Drama satu babak yang dimainkan oleh lima orang pelakon ini berhasil menampilkan sisi gelap-jahanamnya -- manusia, disamping juga aspek ketulusan dan kelembutan hati Tokoh utama drama ini, Mat Kontan, dalam kehidupannya sehari-hari dikenal sebagai seorang yang gila burung, selain seorang penjudi besar. Betapa ia menggelimangkan diri dengan kecintaannya terhadap burung ini, amat jelas terasa taktkala ia tidak memedulikan anaknya yang jatuh sakit. Ia bahkan sibuk menimang-nimang perkutut betinanya, padahal di sisi lain ia sangat bangga terhadap si Kontan Kecil, kendati anaknya itu sesungguhnya.....

Membaca dan menyimak lakon ini, kita jadi bisa turut merasakan berubah-rubahnya situasi jiwa Mat Kontan. Di saat ia bangga, kita ikut membusungkan dada. Namun di saat ia berang, kita pun dicekam kegeraman. Juga kepasrahannya pada nasib, kita rasakan sebagai kepasrahan yang mutlak. Ini tentu berkat pemilihan kata-kata dalam percakapannya sederhana tetapi tepat. Tepat, karena bisa dirasakan sebagai ungkapan pribadi pengucapnya. Jalinan plot Motinggo mengesankan suatu kecermatan penyusunan, sekaligus menunjukkan keuletan, penempatan momen-momen ketegangan yang pas dan tepat.

LIMA DRAMA, B. Soelarto

Judul/Title: LIMA DRAMA
Penulis/Author: B. Soelarto
Penerbit/Publisher: Gunung Agung
Edisi/Edition: 1985
Halaman/Pages: 142
Dimensi/Dimension: 14.5 x 21 x 1cm
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Soe/l/C.1

***
Revolusi 1945
adalah saat-saat manusia Indonesia
dihadapkan pada pilihan-pilihan
penuh tantangan, ancaman dan godaan
di dalam gelombang sejarah
di dalam topan dan badai
dirinya sendiri!

Tokoh-tokoh muncul dan tenggelam:
perempuan dalam "Domba-domba Revolusi"
maupun dalam "Gempa" sama-sama menghadapi
pengkhianatan!
Ketika Tuan X dalam "Abu" diburu-buru
masa silamnya, penghianatan macam apakah yang sedang dipersiapkan Nyonya X?
Dan Si Sulung, nak yang hilang dalam "Bapak" adakah ia benar-benar kembali
atau semakin hilang diri?
Dan pada "Insan-insan Malang"
lengkaplah sudah gambaran keragaman manusia
dalam sejarah, dalam dirinya sendiri maupun dalam ideologi!

Lelaki dan perempuan
punya kesempatan untuk menjadi manusia
menjadi Bapak dan Ibu bagi anak-anaknya
juga Bapak dan Ibu bagi bangsanya.
Tetapi bukan mustahil pula
menjadi bukan apa-apa
atau malah menggila
jadi setan!

Lima Drama karya B. Soelarto ini layak dibaca,
dilakoni atau jadi bahan studi para pemuda
buat memahami manusia dan revolusi Indonesia!

GERR, Putu Wijaya

Judul/Title: GERR
Penulis/Author: Putu Wijaya
Penerbit/Publisher: Balai Pustaka
Edisi/Edition: 1986
Halaman/Pages: 69
Dimensi/Dimension: 15 x 21 x 0.3cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Wij/g/C.1

***
Putu Wijaya adalah penulis drama yang karya-karyanya banyak digemari orang. Cerita lakon Gerr ini berisi sindiran-sindiran yang terutama ditujukan kepada sekelompok orang yang suka memaksakan kehendaknya pada orang lain. Bahasanya kocak, menggunakan istilah-istilah yang banyak dipergunakan oleh anak-anak muda masa kini, sehingga adengan-adegannya menjadi hidup dan menarik.

SANG PRABU, Saini KM

Judul/Title: SANG PRABU: SEBUAH SANDIWARA
Penulis/Author: Saini KM
Penerbit/Publisher: Balai Pustaka
Edisi/Edition: I, 1987
Halaman/Pages: 108
Dimensi/Dimension: 14 x 21 x 0.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 812/Sai/s/C.1

***
Legenda tentang Sangkuriang amat dikenal di Jawa Barat dan oleh masyarakat dianggap sebagai pusaka budaya yang patut dihormati.

Lakon Sang Prabu, karya dari legenda itu dan telah digubah menurut tafsiran dan rekaaan pengarang sendiri. Dengan demikian cerita lama itu mengalami pembaruan yang segar dan mempesona. Segi teknis pementasannya telah pula diberi petunjuknya oleh penulis drama yang terkenal ini.

Sang Prabu merupakan karya yang bernilai yang akan dinikmati baik oleh seniman yang bergerak dalam pementasan drama, maupun oleh pembaca pada umumnya.

THE COMPLETE WORKS OF WILLIAM SHAKESPEARE

Judul/Title: THE COMPLETE WORKS OF WILLIAM SHAKESPEARE
Penulis/Author: William Shakespeare
Penerbit/Publisher: Abbey Library
Edisi/Edition: 1978
Halaman/Pages: 1099
Dimensi/Dimension: 14.5 x 21 x 6cm
Sampul/Cover: Hardcover
Bahasa/Language: English
Call No.: 822 /Sha/c/C.1

***
A part from the meaning, the sound of words can hypnotize one into such a taste of musical joy that one can do without the meaning, but as in music one can just sink into the beauty of a phrase or progression, so infinitely more lovely is it to be able to understand the meaning behind the notes, the building up of the movement. I find it the same with the words of Shakespeare, which have in them all shades of sound and meaning of the words there is the added joy of character. There is no writer who has touched the depth and height of character as our William Shakespeare. We can translate him into all our friends and acquaintances, not all very pleasant acquaintances but human and understandable; better still we can find in ourselves a counterpart of all his creations, that is if we are sensitive enough.

HAMLET, William Shakespeare

Judul/Title: HAMLET
Penulis/Author: William Shakespeare
Penerbit/Publisher: A Signet Classic
Edisi/Edition: 1987
Halaman/Pages: 295
Dimensi/Dimension: 10.5 x 18 x 2cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: English
Call No.: 822/Sha/h/C.1

***
Tragedy of the first order is a rare phenomenon. It came into being in Greece in the fifth century B.C. where it flourished for a while, and it did not appear again until some two thousand years later when Shakespeare wrote Hamlet in 1600. The second incarnation of the spirit of the tragedy differs greatly from the first in form and method. In Shakespeare the comic and the serious are not dissasociated. His brightest moment pass quickly into shadow, and laughter often illuminates his darkest scenes. The comic and the tragic stand side by side, giving us a fuller view of the thing observed, neither canceling out the other. A hallmark of Shakespeare's mature work is its simultaneity, the presentation of things and their opposites at the same time. Coleridge called him "myriad-minded." There had been an alternation of the dark and the light in English drama almost from the beginning, but it remained for Shakespeare to make each a part of the other. He was able to do so because he knew that the difference between comedy and tragedy has nothing to do with subject matter. Each is a way of looking at life. Neither gives us a total view of life, nor does Shakespeare in his use of both; but he approaches totality more closely than any other dramatist.