Showing posts with label Puisi Indonesia | Indonesian Poetry. Show all posts
Showing posts with label Puisi Indonesia | Indonesian Poetry. Show all posts

CAHAYA MAHA CAHAYA, Emha Ainun Nadjib

Judul/Title: Cahaya Maha Cahaya
Penulis/Author: Emha Ainun Nadjib
Penerbit/Publisher: Pustaka Firdaus
Edisi/Edition: 1991
Halaman/Pages: 71
Dimensi/Dimension: 12x 17 x 0.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 811/Nad/c/C.1

***
Emha Ainun Nadjib dikenal luas sebagai budayawan Muslim yang pandangan-pandangannya banyak didengar kaum muda; buah pikirannya tersebar luas di berbagai media massa terutama dalam bentuk kolom. Namun, sebenarnya kegiatannya sebagai budayawan itu diawali dengan menulis puisi. Rupanya kepenyairan Emha tidak surut dengan semakin naiknya frekuensi mkegiatannya di berbagai diskusi, ceramah dan simposium.

Buku kumpulan sajak ini hanyalah salah satu buktinya. Dalam sajak-sajak ini, ia mengungkapkan konflik batin seorang Muslim -- sebagai manusia biasa, bukan tokoh di mimbar. Ia, tentu saja, mengangkat tema-tema keagamaan; keresahan manusia yang tak habis-habisnya mempertanyakan dan mencoba menegaskan kedudukan dan perannya didunia dalam kaitannya dengan kepastian kuasa Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan dan ditegas-tegaskan lagi.

MATA MBELING JEIHAN, Jeihan

Judul/Title: Mata mBeling Jeihan
Penulis/Author: Jeihan
Penerbit/Publisher: Grasindo
Edisi/Edition: I, 2000
Halaman/Pages: 148
Dimensi/Dimension: 19 x 25 x 1cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 811/Jei/m/C.1

***
Adalah penyair Leon Agusta, orang yang menganggap perlu mengungkit dan mengangkat kembali peran puisi mBeling yang pernah hadir dan menghebohkan pada tahun 70-an dalam sejarah sastra Indonesia. Hal ini diungkapkannya secara terbuka di Bandung dalam acara "Hari Syukur dan Tafakur", 3 Oktober 1999, di halaman belakang Studio Jeihan. Banyak di antara para hadirin yang tertarik ang dengan hal tersebut. Di antara yang tertarik menulis buku puisi mBeling, khususnya karya Jeihan, adalah Jakob Sumardjo dan Soni Farid Maulana.

Puisi-puisi mBeling Jeihan yang berjumlah 40 buah, ditelah oleh dua pengamat sastra dari dua generasi. Prolog disuguhkan oleh penyair Soni Farid Maulana, serta epilog oleh pengamat sastra Jakob Sumardjo, kawan dekat Jeihan selama lebih dari 25 tahun.

Dua pandangan dari dua generasi yang berbeda ini dapat Anda simak melalui analisis dan kesimpulan mereka masing-masing. Setiap tafsir atas puisi adalah sah-sah saja untuk berbeda, asal semuanya itu ada pertanggungjawaban rasionalitas dengan bukti empirik puisi itu sendiri. Semakin beragam tafsir, semakin meneguhkan kekayaan makna sebuah karya puisi.

HUJAN BULAN JUNI, Sapardi Djoko Damono

Judul/Title: Hujan Bulan Juni
Penulis/Author: Sapardi Djoko Damono
Penerbit/Publisher: Grasindo
Edisi/Edition: 1994
Halaman/Pages: 114
Dimensi/Dimension: 14x 21 x 0.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.:811 /Dam /h/C.1


***
Sajak-sajak 1971 umumnya adalah sajak-sajak yang bila dibaca penyair lain akan menimbulkan seru, " Mengapa saya tidak menulis seperti itu tentang itu!" Dengan kata lain, merupakan puisi-puisi yang harus (karena layak) dicemburui ... Kata-kata tidak lagi merekat menempel, tetapi bergerak hidup bulat; menjadi tanda dan sekaligus mikrokosmos sendiri.
(Gunawan Mohamad, catatan untuk Mata Pisau)

Agar bisa memahami dengan baik karya Sapardi, kita harus menyadari bahwa ia telah dengan sengaja memilih untuk selalu berada dalam kaitan antara antara ambiguitas dan konvensi puisi. Dalam kenyataannya, ia telah menciptakan genre baru dalam kesusastraan Indonesia, yang sampai kini belum ada nama yang sesuai untuknya... Ia seorang penyair yang orisinal dan kreatif, yang eksperimen-eksperimennya -- inovasi yang sangat mengejutkan dalam segala kesederhanaanya -- mungkin merupakan petunjuk bagi perkembangan di masa mendatang.
(A. Teeuw. Modern Indonesian Literature II)

Indonesia tidak banyak memiliki banyak penyair yang juga akademikus, dan salah seorang yang paling mempesona dan cemerlang adalah Sapardi Djoko Damono ...
Puisi-prosanya adalah suatu perkembangan baru, namun senantiasa peka terhadap kualitas imajistik puisi ... perpaduan antara kemungkinan-kemungkinan prosa dan puisi telah memungkinkannya menciptakan suatu bentuk yang luwes, dan ketelitian serta keterampilan yang merupakan ciri kebanyakan sajaknya menunjukkan kepada kita bahwa ia adalah seorang perfeksionis dalam bentuk maupun bahasa.
(Muhammad Hj. Saleh, Walking Westward in The Morning)

GOENAWAN MOHAMAD: SELECTED POEMS, Laksmi Pamuntjak [ed.]

Judul/Title: Goenawan Mohamad : Selected Poems (Puisi Pilihan)
Penulis/Author: Laksmi Pamuntjak
Penerbit/Publisher: Katakita
Edisi/Edition: 2004
Halaman/Pages: 397
Dimensi/Dimension: 15 x 23 x 1.5cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: English/Indonesia
Call No.: 811/Pam/g/C.1

***
Goenawan Mohamad is one of Indonesia's leading poets and essayist. Following the muzzling of the press during the Suharto regime, he founded the Utan Kayu Community, a cultural pocket dedicated to freedom of expression, the arts and intellectual exchange. He is currently based there while remaining a senior editor of Tempo, of which he was chief for nearly 25 years.

TENTANG CINTA, KEINDAHAN DAN KESUNYIAN, Kahlil Gibran

Judul/Title: Tentang Cinta, Keindahan dan Kesunyian
Penulis/Author: Kahlil Gibran
Penerbit/Publisher: Narasi
Edisi/Edition: II, 2007
Halaman/Pages: 118
Dimensi/Dimension: 11 x 17.5 x 0.5 cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 891/Gib/t/C1

***
Kahlil Gibran adalah legenda pada zamannya, namun karya-karyanya hingga kini tetap memberi inspirasi dari generasi ke generasi. Perenungannya tentang hakikat cinta tertuang ke dalam karya-karyanya yang abadi, sebagian di antaranya terkumpul dalam buku ini.

AKU INI BINATANG JALANG, Chairil Anwar

Judul/Title: Aku Ini Binatang Jalang
Penulis/Author: Chairil Anwar
Penerbit/Publisher: Gramedia
Edisi/Edition: III, 1988
Halaman/Pages: 111
Dimensi/Dimension: 14 x 21 x 0.5 cm
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Call No.: 811/Anw/a/C.1

***
Selama ini kita tidak bisa menemukan sajak-sajak Chairil Anwar dalam satu buku. Sebagian kita temukan dalam Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, sedangkan sebagian lagi kita jumpai dalam Tiga Menguak Takdir dan Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Akan tetapi sajak-sajak yang terdapat dalam pelbagai buku itu sekarang disatukan dalam Aku Ini Binatang Jalang ini.

Selain keseluruhan sajak asli, dalam koleksi ini juga dimuat untuk pertama kalinya surat-surat Chairil -- yang menggambarkan "keadaan jiwa"nya -- kepada karibnya, H.B. Jassin.

Sudah sepatutnyalah setiap pencinta sastra Indonesia memiliki koleksi sajak penyair yang "mau hidup seribu tahun lagi" ini.